Aningsih ( 2 ) (Enny Arrow)

BENNY TIDAK dapat melupakan Aningsih. Di tempat pekerjaannya, Benny tetap ingat. Ini menjadikan Benny banyak melamun. Nelly mengageti Benny. Benny tersentak. Hampir saja berhenti jantungnya. Nelly terkikikkikik.
“Tampangmu lucu sekali kalau lagi kaget,” kata Nelly sambil menutupi mulutnya.

“Kalau jantungku putus, apa kamu bisa ganti?!” tanya Benny kheki.

“Bisa! Aku ganti saja sama hati monyet!”

“Enak saja! Apa kau kira aku ini satu keluarga dengan monyet?! kata Benny lagi.

“Aku tahu. Pasti Benny lagi kasmaran,” ujar Oding.

Apa yang dikatakan Oding memang hampir benar. Benny melamun. Dan Aningsih yang dilamunkan. Terbayang wajahnya. Terbayang gerak-geriknya. Terbayang tertawanya. Semua, semua. Dan Benny membandingkan Aningsih dengan perempuan-perempuan yang pernah dikenalnya. Dengan Hera, Yani, Dari dari banyak lagi wanita-wanita lain. Namun Aningsih mempunyai daya tarik sendiri. Rasanya lama sekali sampai menunggu hari Rabu tiba. Menit demi menit yang berlalu, rasanya sangat lambat. lngin dipaksakannya matahari bergeser cepat ke sebelah barat, agar hari cepat berganti!
HARI RABU.
“Mbak Ning tinggal sendirian di sini?!” tanya Benny pada Aningsih. Mereka duduk di ruang tengah rumah
Aningsih. Pada jam sepuluh pagi, Akingsih belum mandi. Tetapi di mata Benny, bahkan Aningsih tampak lebih
cantik dan menawan.
“Tidak! Bersama teman, Mbak. Hilda! Dan seorang pembantu!” jawab Aningsih sambil meletakkan segelas kopi
susu di hadapan Benny.
Benny mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah. Hm, rapi. Pertanda rumah ini ditangani oleh
orangorang yang apik.
“Mbak Ning kerja?!” tanya Benny lagi.
“Tidak! Aku cuma dagang permata. Yah, hasilnya lumayan juga,” kata Aningsih sambil berdiri dari duduknya.
“Kau tunggu sebentar. Mbak mandi dulu. Kalau mau baca-baca majalah, tuh du bupet. Banyak!” kemudian
Aningsih masuk ke kamarnya, mengambil handuk. Kemudian keluar lagi dan melenggang ke kamar mandi. Mata

Benny tak lepas dari pinggul Aningsih yang bergoyang-goyang.
Aningsih melepaskan satu-satu yang melekat di tubuhnya. Hmm, air terasa sejuk ketika mengguyur tubuhnya yang
mulus. Lalu tangannya yang lentik mulai menyabuni. Mulai dari leher, turun ke bahu, turun lagi ke sepasang
pebukitan indah di dadanya. Seluruh apa yang ada pada dirinya, merupakan panorama sangat indah yang akan
mendatangkan kesan mendalam bagi yang memandangnya. Sambil menyabuni itu, Aningsih berpikir: “Benny
benar-benar datang!” Aningsih benar-benar tidak menduga, bahwa Benny akan menepati janji. Pemuda itu sangat
menarik. Tubuhnya tegap dan atletis. Tubuh yang dirindukan oleh perempuan.
“Bennnn !!!” Benny yang sedang duduk membaca majalah di ruangan tengah, mendengar suara Aningsih yang
memanggilnya mesra.
Benny menutupkan majalah dan buru-buru ke kamar mandi. Pintu kamar mandi setengah terbuka. Aningsih berdiri
dengan handuk sebatas dadanya! Benny terkesiap. Hmm, dengan handuk itu, tubuh Aningsih tercetak indah.
Terutama kulit bahu dan pahanya yang sangat mulus. Kencang dan sekal. Membuat mata Benny tidak berkedip.
Aningsih tersenyum sambil menjentik pipi Benny. “Mengapa kau pandangi aku seperti itu, sih?! Apa ada yang
aneh pada diriku?!”
“Ah, tidak. Aku . . . eh, Mbak cantik sekali!” kata Benny gelagapan dan serba salah.
“Wowww! Rayuan gombal!” ujar Ningsih sambil mengerling manis. “Bennn!! Tolong aku, ya . . . ?!”
“Tolong apa, Mbak?!”
“Tolong ambilkan aku sendal di kamar. Sendal yang warna merah. Brengsek, deh. Aku lupa pakai sendal ke kamar
mandi.” kara Aningsih dengan suara manja. Suara yang membuat hati Benny panas dingin.
Benny segera ke kamar Mbak, Ning, mengambil sendal merah. La.lu kembali ke kamar mandi. “Terima kasih,
Ben!” ujar Aningsih sambil mengenakan sendal yang diambilkan Benny.
Tetapi baru saja mengenakan sebelah, tiba-tiba kaitan handuk Aningsih terlepas. Dan cepat sekali handuk itu
meluncur ke bawah. Aningsih terkejut. “Oh . . . !” serunya. Tetapi Aningsih sudah tidak mengenakan apa-apa lagi.
Yang terlebih gawat adalah Benny. Jantungnya dirasakan bagai akan meledak . . . Matanya membelalak. Dan
Benny tidak nampu menguasai diri lagi. Ditubruknya Aningsih. “Bennnn! Kau ini, Apa-apaan . . . ?!” Aningsih
meronta-ronta. Namun rontaan-rontaan itu terlalu lemah. Tidak mungkin mampu melepaskan diri dari pelukan
Benny yang ketat. “Bennn! Jangan, ah! Oukh, kamu ini . . . !!” Aningsih masih mencoba meronta. Tetapi . . . ah,
tidak. Lebih tepat dikatakan menggeliat. Kepala Aningsih menggeleyong ke kiri dan ke kanan. Menghindari bibir
Benny yang mencari-cari bibirnya. Benny tak sabar. Didorongnya tubuh Aningsih. Ditekankannya ke dinding
kamar mandi, sehingga Aningsih tidak leluasa lagi bergerak. Dan sekejap kemudian, mulut Benny berhasil
menangkap bibir Aningsih. “Hmmmm! Mmmmmm !!” Aningsih tidak lagi meronta. Matanya segera meredup.
Menerima pelukan dan kuluman bibir Benny yang hangat. Bahkan sekarang, Aningsih ikut membalas.
Dijulurkannya lidahnya. Saling mendorong dengan bibir Benny. Matanya semakln redup. Lincah sekali lidah
Aningsih mengait-ngait lidah Benny. Mendapat sambutan yang hangat, darah muda Benny semakin membuncah.
Panas! Menuntut pelepasan. Apalagi ditambah dengan sepasang payudara ranum milik Aningsth yang menekan
dada Benny yang bidang!
“Bennnnn! ! Hmmphh . . . akh!”
“Mbak !! Ssssh !!”
“Sesak napasku, Bennnnn!!”
“Biarlah sesak!”
“Putus jantungku!”
“Biarlah putus!”
“Kalau aku mati . . . ?!!”
“Aku akan ikut mati!”
http://www.rajaebookgratis.com
http://www.paketebooktermurah.blogspot.com
Aningsih tertawa sambil mencubit pipi Benny. “Ih, kok kayak Romeo dan Yuliet saja. Kalau aku mati, apa kau
benarbenar mau ikut mati?!”
“Mau! Demi Mbak!.’ujar Benny sambil menciumi leher Aningsih dengan lembut sekali. Aningsih menggeliatgeliat.
Lehernya menggeleyong-geleyong ke sana-ke mari. Sikap seorang perempuan yang penuh rangsangan.
“Benn . . . !!” Aningsih menyebut nama lelaki itu ditengah-tengah rintihannya.
“Ada apa Mbak?!”
“Mengapa kau bersikap begini padaku?!” dan Aningsih lebih terengah-engah lagi, bilamana hidung Benny
menyapunyapu pankkal buah dadanya yang montok.
“Saya . . . saya . . . cinta pada Mbak . . . !!” ujar Benny di tengah dengus-dengus napasnya.
Aningsih tertawa kecil. Telapak tangannya sebentar mengeluas dan sebentar menekan belakang kepala Benny.
“Kamu nggak bohong?!” tanya Aningsih sambil membusungkan dadanya yang montok dan putih itu, agar Benny
lebih le-luasa melakukan aktifitasnya.
“Saya nggak bohong, Mbak!”
“Kamu bohong . . . !” Aningsih memijit hidung Benny dengan gemas.
“Aww . . . !” Benny menjerit. Pijitan itu mendatangkan sakit. Tetapi juga nikmat.
“Kamu bohong, Ben! Lelaki memang begitu. Suka bohong. Rayuannya gombal. Selangit. Tetapi buktinya, nol!
Nol kosong! Dan perempuan-perempuan banyak yang tertipu. Mereka akhirnya cuma bisa menangis dan
menangis!” ujar Aningsih sambil sambil menekankan dadanya yang sekal, lengkap dengan putihnya yang
kemerahan menantang itu kedada Benny yang bidang. Dan Benny merasakan sesuatu mengutik-utik di antara
kedua pangkal pahanya, di balik celana panjangnya.
“Tetapi aku tidak begitu, Mbak. Kau tidak boleh menyamaratakan semua lelaki!” Benny panas dingin menahankan
sesuatu yang bergelora, membuat kelenjar darahnya berdenyut-denyut.
“Tetapi, Ben! Apa betul kamu sungguh-sungguh mencintaiku?!” Aningsih melepaskan satu demi satu-satu kancing
hemd Benny. Dan kemudian melepaskan hemd lelaki itu. Hemd itu meluncur begitu saja, jatuh ke lantai kamar
mandi yang basah.
Seperti yang dibayangkan Akingsih, tubuh Benny sangat mengagumkan. Tubuh atletis. Bahunya tegap. Kedua
lengannya kekar, berurat. Dan dadanya berbulu lebat. Sirrr . . . ! Berdesri darah Aningsih bilamana bulu-bulu dada
yang keriting lebat itu bergesek ke dadanya.
“Bennn!” bisik Aningsih.
“Ada apa, sayang?!” tanya Benny.
“Bawa aku kamar. Di sini . . . di sini . . . dinginnnnn . . . !!!”
Benny tak perlu menunggu diperintah sampai dua kali. Segera didukungnya Aningsih ke luar dari kamar mandi.
Mbok Inem, pembantu Aningsih sedang ke pasar. Benny meletakkan tubuh mulus yang sudah tidak ditutupi
sehelai benangpun ke tempat tidur. Kemudian lelaki muda itu melepaskan celana panjangnya. Sambil berbaring.
Aningsih menatap tubuh Benny yang aduhai itu. Benny hanya mengenakan celana dalam kecil saja. Berwarna
putih. selangkangan Benny tampak menonjol. Dan Aningsih menelan ludah. Di balik celana dalam itu, meremang
hutan lebat menghitam. Bergompyok. Terus menyambung sampai ke pusar Benny. Dan Aningsih sekali lagi
menelan ludah.
“Bennnn . . . !!” ujar Aningsih. “Ada apa, sayang?!”
“Bukalah celana dalammu. Bukalah!”
Benny tersenyum, melepaskan celana dalamnya. Dan . . . wow!! Mata Aningsih membelalak. Bagaimana tidak?!
Sesuatu yang biasanya selalu tersembunyi itu, kini terpampang bebas. Bazoka Benny! Senjata yang menggayut
setengah tegang itu, panjang dan besar. Hebat sekali! Seakan-akan menantang bagi yang memandang. Benda luar
biasa itu mengangguk-angguk. Menghitam! Mulai dari bagian pangkalnya, lebat ditumbuhi rambut kriting: Bukan main! Seumur hidupnya, Aningsih belum pernah menyaksikan benda sehebat dan seindah itu.

D U A

BUKAN BARU sekali ini Aningsih menghadapi lelaki. Tetapi secara jujur, Aningsih harus mengakui, bahwa
lelaki seperti Benny sangat jarang ditemuinya. Lelaki bertemperamen panas. Jantan! Romantis. Lelaki-lelaki yang
dihadapinya, kebanyakan loyo. Tidak dapat memberikan kepuasan padanya!
Aningsih membiarkan saja Benny meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan
putingnya yang kemerahan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan-gerakan
bukit indah itu. Dan Benny meremasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan.
Aningsih merengek manja. Menggeliat sambil merintih. Matanya meredup. Oukh, telapak tangan Benny hangat
dan seakan-akan mengandung magnit. Membuat Aningsih jadi terangsang. Tangan lelaki itu masih juga meremas.
Berpindah-pindah. Puas sebelah kanan. Beganti dengan sebelah kiri. Bervariasi dengan tekanan-tekanan yang
romantis. Mendatangkan rasa geli-geli dan nikmat. “Oukh, Bennnn! Hmmnrhhh . . . sssh, akh!” ujar Aningsih
sambil membusungkan dada yang sedang diremas Benny, agar Aningsih lebih dapat meresapkan rasa geli-geli
nikmat itu.
Benny memang pintar menaikkan rangsang perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang
pintar bermain. Tetapi juga hidung dan mulutnya. Hidungnya menciumi permukaan payudara yang padat dan
montok itu. Tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Bentuknya sangat indah. Membuat gemas. Cara Benny
menciumi sepasang payudara itupun bervariasi. Sebentar keras dan sebentar lembut. Dan darah yang mengalir di
tubuh Aningsih semakin deras saja!
“Ben !! Kamu sering main perempuan!” tanya Aningsih ditengah-tengah napasnya yang terengah.
“Tidak sering, Mbak. Baru beberapa kali saja.” ujar Benny sambil membuka mulutnya dan memasukkan puting
buah dada yang merah kecoklatan itu.
“Auww . . . !!” Aningsih menjerit lirih. Dan perempuan itu menggelinjang-gelinjang, bilamana puting buah
dadanya dikulum oleh Benny. Dan untuk kesekian kali, Aningsih harus mengakui, bahwa kuluman bibir Benny
sangat berbeda dengan kuluman bibir lelaki-lelaki lainnya. “Hsssh, akh! Terus, Bennnn! Terussss,
sayangghhh . . . !! Hmmmhhh . . . !!” dua telapak tangan Aningsih mengerumasi rambut Benny sambil
menekankan.
Benny semakin terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada itu. Dikulum oleh Benny. Dilepaskan. Dikulum.
Dilepaskan lagi. Berganti-ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosanbosannya.
Dan puting itu semakin tegang lagi. Benny melakukannya bervariasi. Sebentar lembut dan sebentar
keras. Dan rasa geli bercampur kenikmatan semakin terasa. “Oukh, Benny! Teruskan, sayanghhh . . . !! Sssh
ennnak, Bennnn!!!” mulut Aningsih mendecap-decap seperti orang kepedasan. Tersendat-sendat. Dan buah dada
Aningsih semakin keras, pertanda perempuan itu kian terangsang. Lebih-lebih bilamana Benny menggesergeserkan
di antara gigigiginya. Nikmat! Dan napas Aningsih turun naik. “Bennyy!! Keras, dikit! Ya, ya. gitu.
Aukh, Bennnn! Kok enakkkh, sihhhh !” dan Aningsih merintih-rintih.
Benny semakin bersemangat. Digigit-gigitnya pentil susu yang kenyal itu. Dihisapnya. Lalu dijilatinya dengan
bernafsu. Sebentar ditinggalkannya, puting itu. Lalu Benny mengecupi buah dada ranum itu bertubi-tubi. Lalu
kembali ke pentil susu .yang siap menanti. Dibisapnya lagi. Digigitinya. Dikulum-kulumnya Lalu dilepaskannya
lagi. Sementara tangan Aningsih tak menentu mengerumasi rambut Benny yang tebal, sehingga rambut lelaki itu
menjadi acak-acakan.
Lama Benny mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu. Demikian pula dengan ketiak perempuan itu.
Benny tak mau membiarkan menganggur. Ketiak Aningsih berbulu lebat. Sesuai dengan selera Benny. Benny
memang paling senang dengan perempuan-perempuan yang cantik yang ketiaknya berbulu lebat. Sesuai dengan
pengalaman Benny, biasanya perempuan-perempuan itu bertemperamen panas.
Benny menciumi ketiak perempuan itu, lalu menurun sampai ke pinggang sebelah kiri. Naik lagi ke ketiaknya,
menurun lagi sampai ke pinggangnya. Demikian berulang-ulang. Benyy juga menggunakan ujung lidahnya untuk
menjilatjilat sambil menggigiti keras dan lembut. “Uukh, Bennnn! Kami sungguh pintar membahagiakan perempuan . . . !!!” bisik Aningsih terputus-putus.
Benny bukan hanya sekali ini mendengar ucapan seperti itu. Ketika mencumbu ibu kostnya, Tante Dewi, Benny
juga menerima ucapan-ucapan seperti itu. Di samping itu, Tante Dewi juga mengatakan, bahwa seumur hidupnya,
dia takkan mampu melupakan Benny.
Permainan lidah Benny terus dengan gencar menyerang tempat-tempat di tubuh Aningsih yang sensitip.
Dijilatinya perut Aningsih yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman-ciuman Benny berulangulang.
Sambil berbuat demikian, tangan Benny membelai-belai kedua paha Aningsih yang masih terkatup.
Aningsih sudah gemetar tubuhnya. Panas dingin. Ketika Aningsih menengok ke bawah, pandangannya beradu
pada sesuatu di antara kedua paha Benny. Aningsih menelan ludah. Benda itu sejak tadi menggodanya. Aningsih
menurunkan tangannya. Digenggamnya batang zakar Benny yang aduhai. Benny yang sedang menciumi sedikit di
bagian bawah pusar Aningsih tertahan-tahan napasnya. “Oukh. Mbak . . . !” katanya. Aningsih merasakan benda
yang digenggamnya, yang baru separuh tegang, hangat dan besar. Senang sekali menggenggam seperti itu.
Sementara itu. tangan Benny masih juga terus meraba-raba Aningsih berganti-ganti.
“Sabar, Mbak!” bisik Benny. “Nanti Mbak boleh berbuat apa saja terhadap punyaku. Tetapi sekarang, aku sedang
ingin mencumbu tubuh Mbak. Seluruh tubuh Mbak! Kurang leluasa kalau Mbak menggengam punyaku begini!”
Apa boleh buat. Meskipun Aningsih masih ingin menggenggam batang zakar yang luar biasa itu, terpaksa
dilepaskan. Maka kini dengan leluasa melakukan aktifitasnya.
Dan . . . hhmmmh! Benny menahan napas bilamana pandangannya ditujukan ke selangkangan Aningsih. Bagian
itu gompyok ditutupi rambut yang tebal keriting. Hmmh! Rambut kemaluan Aningsih bukan main lebat dan ikal.
Menghitam! Kata orang, semakin tebal rambut kemaluan perempuan akan semakin enak kalau digituin. Dan
sekarang, secara jujur, Benny harus mengakui, bahwa dia belum pernah mendapatkan perempuan yang rambut
kemaluannya setebal dan selebat Aningsih. Benny menelan ludah. Jika menuruti nafsunya, tentu saja seketika itu
juga Benny akan membenamkan batang kemaluannya yang sudah kian tegang, ke belahan daging hangat di balik
rimbunan hutan lebat itu. Tetapi Benny bukanlah type lelaki yang serba grasa-grusu. Dia tidak akan menggituin
pereinpuan, sebelum lebih dulu memberikan kesan yang sangat mendalam. “Oukh, Ben!” Aningsih menepuk pipi
Benny lembut. “Kau kok jadi berobah seperti patung! Apa aku ini aneh bagimu!”
Benny menelan ludah sambil tersenyum. “Bukannya aneh, Mbak. Tetapi anumu, nih . . . !” ujar Benny sambil
membelai rambut kemaluan Aningsih. “Rambut kemaluan ini indah dan menawan sekali. Baru rambutnya saja
sudah begini menggiurkan, apalagi kemaluanmu. Tentunya enak sekali. Hmmh!”
Aningsih tertawa kecil. “Kau senang sekali pada rambut kemaluanku. Ben?!” tanya Aningsih sambil menggosokgosok
bulu-bulu rambut di dada Benny.
“Senang sekali, Mbak. Senang sekali,” Benny masih terus dengan mesra membelai-belai rambut kemaluan yang
indah itu.
“Kamu sering mengerjai perempuan yang rambut kemaluannya setebal punyaku!”
“Belum, Mbak. Baru sekali ini. Bahkan aku pernah menccipi punya perempuan yang botak!” ujar Benny.
Aningsih tertawa kecil lagi sambil mengerumasi ramhut Benny. “Nah, terserah kaulah. Perbuatlah apa saja yang
kau sukai pada punyaku!”
Walaupun tanpa diperintah seperti itu, tentu saja Benny akan berbuat sesukanya terhadap kemaluan Aningsih yang
kini sudah terpampang di hadapannya. Benny menggerai-geraikan rambut kemaluan yang tebal, panjang dan
keriting itu. Lalu ditekan-tekannya. Lalu diciuminya. Kadang-kadang ditarik-tariknya. Aningsih merasakan
kemesraan amat sangat. Secara naluriah, pahanya mulai membuka sedikit demi sedikit. Jari-jari tangan Benny
bermain-main di pebukitan itu. Hmmh, mesranya! Selangit!
“Bennn !!” Aningsih merintih.
Benny menguakkan bibir-bibir kemaluan Aningsih. Hmm, tampak bagian dalamnya yang kemerahan. Sangat
indah menawan. Benny menelan ludah. Beginilah kiranya kemaluan perempuan. Dengan mesranya, Benny
meraba-raba vagina yang indah itu. Merah dan licin. Pada bagian atas, pada pertemuan antara dua bibir, tampak
sekerat daging kecil. Nyempil sendirian. Tidak berteman. Sungguh kasihan. Benny memandangi sepuas-sepuasnya
panorama indah mengesankan itu. Ningsih memijit hidung Benny agak kuat. “Oukh, Ben! Mengapa cuma melihati
saja?! Memangnya punyaku barang tontonan!”
Benny tersenyum. Tahulah dia, bahwa Aningsih sudah kepingin sekali dikerjai vaginanya. Padahal Benny masih
ingin lebih lama memandangi. Vagina Aningsih rasanya lebih indah dari pada vagina-vagina perempuan lain yang
pernah disaksikannya. Dengan mesra, jari-jari Benny menyentuhnya. Aningsih tergelinjang. “Wow! Hmmh,
Bennnnnnn!! Ss sh, akh!” Aningsih menggeliat. Jari Benny terus juga bermain. Mengutik-utik kelentit yang
nyempil aduhai.
Benny menempatkan di antara kedua paha Aningsih yang sudah mengangkang. Liang vagina yang sebaris dengan
sibakan bibir inilah yang dapat menjepit dan memberikan kenikmatan kepada zakar. Lagi-lagi tangan Benny
menyentuh kelentit yang cuma sekerat itu. Dan lagi-lagi Aningsih bergelinjang. Nikmatnya bukan main. Orang
suka bilang, kelentit itu bisa berdiri. Benarkah?! Benny senang sekali dan mengulangi perbuatannya berkali-kali.
“Oukh, geli, Ben! Geliiiii! Sssh, akhh . . . !!” Aningsih merintih-rintih.
Tingkah Benny saat itu, bagaikan kanak-kanak yang memperoleh permainan yang mengasyikan. Permainan yang
tidak ada dijual di toko. Semakin giat Benny menyentuhi sekerat daging kecil itu. Aningsih mengerumasi rambut
Benny.
Tidak puas dengan hanya menyentuh dengan tangan saja, bibir-bibir kemaluan yang ditumbuhi rambut itu,
dikuakkan oleh Benny semakin lebar lagi. Kedua kaki Aningsih kini telah niengangkang selebar-lebarnya,
menekuk ke atas. Sekarang, bagian dalam kemaluan itu telah terpampang selebar-lebarnya. Terbebas sama sekali.
Sedetik kemudian, Aningsih terpekik: “Awww . . . !” Tubuhnya tersentak ke atas. Rupanya Benny telah
membenamkan hidungnya ke dalam belahan daging yang aduhai itu. “Bennn . . . !! Uf ! Ssssh ennnakhhh,
Bennn!!” Aningsih merintih-rintih sambil menekankan belakang kepala Benny dengan kedua tangnnya. Maka
hidung Benny mulal menggusur ke sana-ke mari. Seperti akan membongkar seluruh bagian vagina Aningsih. Kaki
Aningsih menendang-nendang ke atas, merasakan kenikmatan tidak bertara. Benny terus dengan giatnya
menciumi. Vagina Aningsih menyebarkan aroma yang segar merangsang!
“Oukh, Bennn! Enak . . . enak . . . enak, sayangghhhh! Teruskan, Ben! Ayo, lebih cepat .dikit. Hmmmh Bennnn!
Terus, sayang. Terus, terus, akhhhh !!”
“Aku juga, Mbak! Aku . . . aku . . . juga enak,” bisik Benny sambil juga menggunakan. lidahnya, menjilat dan
menjilat.
Mata Aningsih merem melek. Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Lehernya menggeleyong-geleyong. “Bennn!
Kamu senang menciumi punyakuuuu . . . ?!! Shhh . . . !!!” tersendat-sendat suara Aningsih.
“Senang sekali, Mbak! Punyaku jadi semakin tegang, nih!” kata Benny tersendat-sendat pula. Dan lidah Benny
terus juga menjilat dan menjilat. Menyapu-nyapu kelentit Aningsih. Benar saja! Kelentit itu semakin tegak,
menandakan Aningsih telah terbakar oleh nafsu birahi. Kedua kaki Aningsih terus menyentak-nyentak ke atas.
Pantatnya diangkat dan digoyang-goyang. Oukh, sungguh, permainan yang mengasyikkan.
Benny benar-benar menyukai menciumi dan menjilati vagina Aningsih yang harum itu. Sama sekali tidak jijik.
Justru sebaliknya. Ketagihan. Benny semakin rakus dan semakin rakus.
“Bennn!!! Hhhssshh. Hmmm . . . hmmmhhh!” suara Aningsih menggeletar. Badannya nienggeliat-geliat tak
menentu. Tubuhnya menggelepar-gelepar, bilamana ujung lidah Benny mengait-ngait dan menusuk-nusuk liang
vagina Aningsih yang terasa liat. Sentuhan-sentuhan lembut vagina yang berdenyut-denyut itu kian membakar
nafsu birahi. Dan tiba-tiba Aningsih mengejang. “Bennn . . . !! Sssh ! Akkkhhhuuu tak kuaattsss, sayaugghh . . . !!”
Aningsih merentak-rentak.
“Ayoh, Mbak! Keluarkan! Aku sudah siap menerima!” ujar Benny yang terus juga dengan bersemangat
menusuknusuk vagina Aningsih dengan ujung lidahnya.
“Iyyaa, Bennnn! Akhhhu shhi . . . aukhh! Bennn! Ennnakkhhhh, meronta-ronta bagaikan kesetanan. Berbarengan
dengan jeritannya yang menyayat, Aningsih mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan menekankan belakang kepala
Benny sekuat-kuatnya, sehingga tanpa ampun separuh wajah Benny membenam sedalam-dalam ke bagian dalam kemaluan Aningsih. Bertepatan dengan itu pula, menyemprotlah cairan hangat dan licin. Kental. Menyiram lidah
Benny yang terus menusuk-nusuk lobang vagina Aningsih.
Benny yang memang sudah siap menerima, bagaikan kesetanan, menghirup habis cairan yang banyak sekali itu.
Terus dijilat dan disapu bersih, masuk ke kerongkongannya. Sudah tentu Aningsih semakin berkelojotan,
dikarenakan rasa nikmat yang luar biasa sekali. Sampai akhirnya tetes cairan yang terakhir. Tubuh perempuan itu
melemas. Sedangkan Benny sendiri, merasakan pula nikmat luar biasa ketika mereguk cairan licin itu. Cairan
kenikmatan Aningsih gurih sekali, lebih gurih dari pada segala yang paling gurih di dunia ini !
Benny tertunduk sambil menjilati sisa-sisa cipratan cairan Aningsih yang melekati pinggiran bibirnya. Aningsih
melompat dan memeluk Benny kuat-kuat. “Oukh, Bennn! Terima kasih, sayangl Kau hebat! Jantan! Kau mampu
membuat perempuan bahagia!” dan Aningsih menciumi bibir Benny bertubu-tubi.
“Aku sampai kenyang menelan cairanmu. Banyak dan kental sekali! “ujar Benny.
“Kau tidak jijik, Ben ?!”
“Sama sekali tidak. Malah aku ketagihan. Kalau masih ada, aku masih mau meneguknya lagi!”
Aningsih tambah gembira. Menciumi lagi bibir Benny bertubi-tubi. Kemudian didorongnya tubuh lelaki muda itu
sehingga tergelimpang di atas kasur. “Kau sudah mengerjai punyaku! Sekarang, ganti aku yang mengerjai
punyamu!” ujar Aningsih yang segera menyergap selangkangan Benny.
“Auwww . . . !” Benny menjerit kaget.
Namun Aningsih tidak menghiraukan. Batang bazoka Benny yang sudah benar-benar tegak mengacung, sejak tadi
sangat menggoda. Aningsih sudah ingin sekali menciumi dan mengemoti. Dan sekarang, keinginan itupun
kesampaian.
Dengan mesranya Aningsih membelai-belai batang kemaluan itu yang bukan main luar biasa besar dan
panjangnya. Demikian pula dengan kepalanya yang berkilat dan membengkak. “Oukh, punyamu hebat sekali,
Ben! besar dan panjang. Hmmhh . . . !!!” Aningsih terus juga membelai sambil sesekali menggenggam. Mulai dari
pangkalnya yang dipenuhi rambut lebat sampai ke ujungnya yang berkilat dan membengkak, berbentuk topi baja.
“Kamu suka pada punyaku, Mbak?!” tanya Benny sambil membiarkan Aningsih mengeser-geserkan zakarnya
yang hebat itu ke pipi dan matanya.
“Suka sekali, Ben! Tetapi ugh! Punyamu besar banget. Bengkak! Aku jadi negeri!”
“Ngeri kenapa?!”
“Ngeri kalau-kalau vaginaku sobek dan rusak!”
Beny teatawa kecil. “Kau ini ada-ada saja. Kan semakin besar semakin enak!”
“Iya! Tetapi punyamu ini besarnya nggak ketulungan!” ujar Aningsih.
Benny tertawa lagi. Batang zakarnya berkejat-kejat digenggaman Aningsih. “Aku belum pernah merasakan batang
zakar yang besar dan panjangnya kayak punyamu ini,” ujar Aningsih lagi.
Benny merasakan geli dan nikmat bukan main ketika Aningsih menciumi zakarnya yang semakin membengkak.
Rasa geli yang nikmat dirasakan Benny. Tubuh lelaki itu kejang. Matanya membeliak-beliak. “Hmmh, Mbak! Sssh
. . . !” mulutnya mulai merintih-rintih.
Sambil menciumi, Aningsih memijit-mijit batang bazoka yang keras bagaikan tonggak itu. Menjadikan Aningsih
gemes. Ujung lidah menciumi benda aduhai itu. Benda yang dapat memberikan kenikniatan luar biasa kepada
wanita. “Ben! Perempuan-perempuan yang sudah kau kerjai, pasti pada ketagihan!” ujar Aningsih.
Benny tidak menjawab. Dia mendacap-decap bagaikan orang kepedasan. Tengah meresapkan kenikmatan yang
luaz biasa. Lezat!
Alat vital dalam genggaman Aningsih itu semakin membengkak dan semakin memanjang lagi. Aningsih yang
gemas bukan main, semakin tak tahan. Segera dia menempatkan dirinya sebaik-baiknya diantara kedua kaki
Benny yang tertekuk. Kedua paha Benny terlentang selebar-lebarnya, sehingga tangan kanan Aningsih
menggenggam alat vital yang kencang itu, tangan kirinya memhelal-belai rambut kemaluan Benny yang tebal dan
ikal, tumhuh sanipai ke pusar. Merinding bulu-bulu roma Aningsih bilamana dia menciumi seluruh batang dan
kepala kemaluan yang luar biasa itu. Bukan main. jari jari Aningsih hampir tidak muat menggenggam alat vital
yang luar biasa itu. Memang inilah yang sangat disukai Aningsih. Dulu, dia pernah mendapatkan lelaki yang juga
memiliki bazoka besar. Dan sejak itu, Ningsih sangat merindukannya. Dan baru sekarang, dia memperolehnya
kembali setelah bertahun-tahun berselang. Aningsih yang semakin gemas segera menjulurkan lidahnya, menjilat
batang kemaluan itu. Lalu dingangakannya mulutnya dan dimasukkannya bazoka luar biasa itu. Keruan saja
Benny nienggelinjang kaget namun nikmat. “Ouw, Mbak! Hmmh . . . enak sekali, Mbak!” Benny merintih. Kedua
kakinya terangkat naik dan menyepak-neyepak ke atas.
Mendengar rintihan Benny, Aningsih jadi semakin bersemangat. Kepala bazoka yang berbentuk topi baja itu
dikulumnya. Digigitnya. Tingkah Aningsih tidak ubahnya, bagaikan seseorang yang mendapat makanan lezat.
Nikmat sekali. Sampai matanya terpejam-pejani. Air liurnya menetes-netes. Kepala yang berbentuk topi baja itu
sangat hangat dan. kenyal. Demikian pula halnya dengan Benny. Kunyahan-kunyahan mulut Aningsih
dirasakannya sangat nikmat dan merangsang nafsu birahinya. Benny merintih-rintih. Kedua kakinya semakin
menyepak. Matanya mebeliak-beliak, sehingga hanya putihnya saja yang tampak. Aningsih kian bersemangat.
Sekarang, bukan hanya kepalanya saja yang dikulum dan digigiti Aningsih, tetapi seluruh batang kemaluan yang
perkasa itu. Semntara itu, kedua telapak tangan Aningsih tidak tinggal diam. Sementara mulutnya mengulum,
tangannya menarik-narik rambut kemaluan Benny yang luar biasa lebarnya. Dan tangan yang satu lagi
mempermainkan sepasang biji milik Benny.
“Enak, Ben . . . ?!” tanya Aningsih ditengah-tengah kesibukannya.
“Enak sekali Mbak. Ennaaakkkh !!!” Benny berusaha menyahuti tersendat-sendat. Kedua tangannya.
Aningsih terus juga melalap senjata yang luar biasa itu. Demikianlah secara beraturan, kepala dan batang zakar
Benny keluar masuk mulut Aningsih. Pada waktu masuk, mulut Aningsih sampai kempot. Sedangkan pada waktu
keluar sampai monyong. Semakin lama semakin cepat. Tubuh Benny gemetar. Jemarinya mencengkeram rambut
Aningsih kuat-kuat. Rintihan . . . rintihannya semakin menghebat, sementara Aningsih kian gencar menyerbu
menggebu-gebu. Akhirnya, Benny menjerit histeris. Pantatnya diangkatnya tinggi-tuiggi, sedangkan kedua telapak
tangannya menekan belakang kepala Aningsih kuat-kuat. Dan batang serta kepala kemaluan Benny pun
membenam sedalam-dalamnya, merojok sampai ke tenggorokan Aningsih. Dengan bersemangat sekali, tangan
Aningsih mengocok pangkal kemaluan Benny dengan cepat dan mesra. Dan tanpa ampun lagi : “Crroott!
Crrrroooottss! Crrottttsssss . . . !!!” menyemprotlah cairan kental dari dalam batang kemaluan yang berdenyutdenyut
dengan dahsyatnya. Daya semprotnya luar biasa sekali. Tubuh Benny menggigil. Aningsih tidak menyianyiakan
kesempatan. Dengan nikmat sekali disedotnya batang kemaluan Benny. Maka tanpa ampun, bergumpalgumpal
cairan kenil:matan Benny, tertumpah semuanya ke dalam mulut dan tenggorokan Aningsih. Mata Aningsih
sampai terpejam-pejam, menelan seluruhnya sampai tetes terakhir. Benny setengah mengeluh memejamkan
matanya. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. “Oukh, Mbak. Kau sungguh hebat!” bisiknya.
Aningsih tertawa sambil menyeka mulutnya yang sebagian masih dibasahi sisa-sisa cairan kental. “Bagaimana,
Ben?! Enak?!” tanya Aningsih.
Benny menarik lengan Aningsih, sehingga perempuan itu jatuh ke dalam dekapannya. “Enak sekali, Mbak. Oukh,
enak sekali! Kaupun mampu membahagiakan lelaki!” ujar Benny.
Aningsih tersenyum mendengar pujian Benny, “Aku haus, Ben. Tolong ambilkan aku minum di meja itu, dong!”
ujar Aningsih.
Benny melompat turun dari tempat tidur, menuangkan Fanta merah dari botol besar ke gelas sampai penuh.
Kemudian memberikannya pada Aningsih. Aningsih meneguknya dengan lahap. Haus sekali rupanya. Sampai
habis tiga perempat gelas. Kemudian Benny menuangkan lagi ke gelas sampai penuh, kemudian meneguknya
sampai habis.
“Benny . . . !” mata Aningsih berkejap-kejap. Punyaku sudah ingin sekali dimasuki punyamu.” Dan Aningsih
melirik ke selangkangan Benny. Senjatanya masih tegang mengacung.
“Kita istirahat dulu sebentar ya, sayang!” bisik Benny sambil membelai rambut Aningsih.

T I G A

HANYA SEPULUH menit mereka membutuhkan waktu istirahat. Benny naik ke atas tubuh Aningsih yang sudah
siap menanti. Kedua susunya menyembul putih bagaikan salju. Benar-benar menantang. Pinggangnya ramping dan
pinggulnya mekar dan indah. Benny menciumi bahu dan payudara Aningsih, sementara bazokanya yang sudah
benar-benar tegang menggeser-geser di paha Aningsih.
Aningsih menggenggam batang bazoka Benny yang sangat kekar. Sambil membalas ciuman-ciuman Benny yang
bertubi-tubi dibimbing dan kemudian ditempatkannya kepala kemaluan Benny yang sudah membengkak tepat di
ambang gua vaginanya. Sementara itu, kedua paha Aningsih sudah direntangkannya selebar-lebarnya. “Benn . . . !!
Pelan-pelannn, sayanghhh!!” bisik Aningsih gemetar. “Kepunyaanmu besar sekali!”
Benny mengangguk. Dirasakannya kehangatan menyengat pada kepala zakarnya. “Ayoh, Benn! Tekan,
sayangghh!! Sssshh . . . pelan-pelllaann !!” Aningsih memejamkan matanya.
Benny mendorong pantatnya. Dan kepala zakarnya pun melesak, dan: “Auww . . . !!!” Aningsih menjerit tertahan.
“Bennnnnn!! Sssaakkhittsss!” dan tubuh Aningsih mengejang, bergetar menahan rasa perih.
Benny mengerti. Dia tidak main asal tabrak saja. Dinantikannya sampai rasa sakit Aningsih. Benny merasakan
lobang vagina Aningsih menjepit keras, mencekik leher zakarnya. Adduuuhhh! Bukan main nikmatnya!
“Ayoh, Ben! Tekan lagi!” bisik Ningsih setelah rasa sakit itu hilang.
Benny menekan lagi. Dan srrrt! Dan batang zakar Benny yang luar biasa besarnya itu melesak lagi sampai
sepertiga. Dan sebagaimana yang pertama, Aningsih tersentak sambil menjerit: “Addduuhhh! Bennn!
Ssssaakkhittss ”
“Tahankan, sayang!” bisik Benny sambil tersenyum dan bertulang mengecupi mata Aningsih yang berlinang.
“Nanti kau akan merasakan nikmat yang luar biasa!”
Benny membiarkan zakarnya membenam sampai sepertiga, kemudian ditariknya perlahan-lahan sampai sebatas
leher kemaluannya. Lalu ditekannya kembali pantatnya. Dan batang bazoka yang luar biasa itupun menggelosor
masuk. Lagi-lagi Aningsih merasakan kemaluan Benny bagaikan membongkar seluruh lorong vaginanya.
Aningsih menggigit bibirnya sendiri, menahan rasa sakit dan linu. Namun lama kelamaan, rasa sakit dan linu itu
semakin berkurang dan semakin berkurang lagi. Sebagai gantinya, zakar Benny keluar masuk mulai
mendatangkan rasa nikmat luar biasa. Keluar-masuk. Keluar masuk! Demikian berulang-ulang. Bless! Slessep!
Bless! Slessep! Bagaikan kereta api yang sedang langsir. Tetapi terbatas hanya sampai separuh saja. Pada waktu
didorong masuk, vagina Aningsih sampai kempot. Dan pada waktu ditarik, sampai monyong . . . Hmmm!
Kepunyaanmu enak sekali, sayang. Sempit sekali. Rasanya hampir lecet kepunyaanku,” kata Benny.
“Kepunyaanmu terlalu besar, Ben,” ujar Aningsih sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Hal mana semakin
mendatangkan nikmat bagi Benny. Demikian pula bagi Aningsih. Pinggulnya yang besar dan montok itu
melakukan gerakan memutar, seirama dengan keluar-masuknya batang zakar Benntu. “Bagaimana, sayang?!
Masih sakit?!” tanya Benny sambil mengecupi belakang telinga Aningsih. Aningsih menggelinjang-gelinjang geli.
“Kemaluanmu enak sekali, sayang! Betul-betul lezat.” bisik Aningsih.
“Nah, apa kataku tadi. Rasa sakitmu cuma sebentar, kan?!” ujar Benny. “Kemaluanmu juga enak, Mbak. Enak
sekali!”
“Bennn . . . !!” Ujar Aningsih yang tersenyum bangga, menerima pujian Benny.
“Ada apa?!” tanya Beatty.
“Apakah kepunyaankn betul-betul enak?!”
“Enak sekali, sayang. Kepala zakarku bagaikan dipijit dan disedot-sedot. Pokoknya lezaaatttss . . . !!” Benny
meliuk-liuk ke sana-ke mari. Tenutunya diapun sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa sebagai akibat
pijitan-pijitan dinding-dinding lorong kemaluan Aningsih yang bagaikan hidup. Sementara itu, cairan lendir
semakin membajiri lorong kemaluanku. Semakin licin dan basah.
“Nah. manisku! Lorongmu semakin lancar sekarang,” bisik Benny dengan mesranya. “Bagaimana kalau kubenamkan seluruh batang zakarku?!”
“Ayoh, sayang! Aku sudah siap,” kata Aningsih sambil mengangkangkan kedua pahanya lebih lebar.
Dan Benny pun mendorong pantatnya sehingga kemaluannya lebih dalam membenam ke dalam lobang vagina
Aningsih. Blesss! Wow!, Aningsih bagaikan melayang ke langit ketujuh.

Terasa benar bagaimana menggelosornya
benda itu. Nikmat sekali. Tetapi Aningsih jadi agak kecewa ketika Benny menghentikan dorongannya. Batang
kemaluannya yang kukuh bagaikan tonggak itu belum seluruhnya masuk. Aningsih jadi penasaran dan
mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. “Masukkan semua, Ben! Sanwa! Jangan disisakan laghhiiiii! Masukkan,
dorongghh . . . .!!” kaki Aningsih menjepit pinggang Benny. Dan tangannya, berusaha mendorong pantat Benny ke
bawah. Benny mengerti, Aningsih sudah histeris. Sudah ingin menikmati seluruh batang kemaluannya tanpa sisa
lagi. Tetapi bukannya mendorong, Benny malah mengangkat pantatnya. Dan kemaluannya menggelosor ke luar.
Aningsih jadi penasaran. Diangkatnya pantatnya setinggi-tingginya. Bertepatan dengan itu, Benny mengayunkan
pantatnya kuat-kuat. Dan . . . blashhh!! Tanpa ampun, seluruh batang kemaluannya yang kokoh, indah . . . dan
perkasa itu menghunjam dan membenam sedalam-dalamnya ke liang kemaluan Aningsih. Aningsih menjerit
sekuat-kuatnya. Tubuhnya meronta-ronta ke sana-ke mari, bagaikan sapi disembelih. Dan, “Crot! Crrrt! Crrrotttss .
. . !!” semua cairan mani yang tersimpan di dalam kandungannya, menyemprot seketika. Banyak sekali.
Membanjiri seluruh lobang gua Aningsih. Suatu kenikmatan luar biasa yang sebelumnya belum pernah dirasakan
oleh Aningsih. Dan bersamaan dengan jeritan Aningsih, Benny pun mengeram kuat. sambil merangkul tubuh
Aningsih kuat-kuat. Aningsih merasakan tubuhnya bagaikan remuk. Hmmmh!” Akh. Mbak! Hmmm!
Akkkkhhhuuu keluarrr, sssh! Mbaaakkk . . . sssh, ennnnaakhh!!” Benny meracau sambil meronta-ronta. Matanya
membeliak-beliak ke atas, sementara kepalanya terlontar ke sana-ke mari. Dan bersamaan dengan itu, Aningsih
merasakan batang zakar Benny berdenyut-denyut keras dan memuntahkan lahar panas. Berkali-kali terasa
semprotansemprotan itu. Maka lobang kemaluanku pun semakin membanjir.
Setelah beberapa detik lamanya merasakan dirinya terlontar ke angkasa, Benny merasakan dirinya lemas. Dan
tergulirlah dari atas tubuh Aningsih. Keduanya merasakan kepuasan amat sangat. Aningsih memijit hidung Benny.
“Luar biasa sekali,” ujar Aningsih. “Kaulah satu-satunya lelaki yang berhasil memuaskanku, Ben!Sungguh!”
“Aku juga begitu, Mbak. Baru kaulah yang benar-benar memuaskan diriku!” balas Benny. Lalu keduanya
berkecupan dengan mesranya.
Apa yang dikatakan Aningsih memang benar. Dia sudah berpengalaman dengan lelaki. Namun baru kali inilah
mendapatkan kepuasan yang benar-benar aduhai.
Tidak hanya sekali saja mereka lakukan kemesraan itu. Namun berkali-kali. Dan berbagai pose pula. Model
nungging, model berdiri. Model diganjal bantal. Semuanya memuaskan! Aningsih merasakan kebahagiaan amat
sangat. Demikian pula halnya dengan Benny. “Aku semakin mencintaimu, Mbak!” bisiknya.
Aningsih menggeleng-gelengkan kepala. “Kau belum tahu siapa diriku sebenarnya, Ben!” ujarnya Aningsih.
“Siapapun dirimu, aku tetap mencintaimu, Mbak!” ujar Benny lagi.
“Aku tidak peduli. Cinta tidak memandang umur. Pokoknya aku mencintaimu, Mbak. Dan aku ingin memilikimu!”
Aningsih memijit hidung Benny dengan mesra. “Ih, dasar bandel!” ujar Aningsih. “Kalau saja kau tahu siapa
diriku, pasti kau akan membenciku!”
“”Tidak, Mbak. Sungguh! Dengarlah. Diriku sendiripun sudah pantas untuk menikah. Usiaku sudah dua puluh
empat tahun. Aku sudah bekerja. Gajiku cukup untuk hidup kita berdua. Di samping itu, orang tua aku di kampung
sudah sangat mengharapkan punya cucu dariku. Nah, apa lagi, Mbak?! Apalagi?!”
“Kau ini nggak sabaran sekali, Ben! Kita baru berkenalan, sudah mengajak kawin. Kau harus tahu, perkawinan itu
bukan sekedar barang permainann. Harus benar-benar melalui pertimbangan yang masak. Kita harus berpikir,
apakah kita sudah benar-benar cocok. Kau belum tahu sifat-sifatku dan akupun belum tahu sifat-sitatmu.
Tunggulah sampat tiba saatnya kita sudah benar-benar siap untuk menikah!
Benny tidak menjawab. Hanya merenung.
“Deagarlah, Ben!” ujar Aningsih sainbil mempermainkan bulu-bulu dada Benny. “Dan pikirkanlah. Aku ini janda.
Bercerai dua tahun yang lalu karena tidak ada kecocokan. Untung saja akn belumpunya anak. Nah, aku tidak ingin
jika nanti aku harus menjadi janda untuk kedua kalinya. Aku harus berhati-hati!”
“Baiklah, Mbak. Aku . . . aku . . . akan memikirkannya! Akn . . . aku akaa bersabar menunggu,” jawab Benny

2 thoughts on “Aningsih ( 2 ) (Enny Arrow)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s