Bercinta Dengan Tante Dewi (Enny Arrow)

JAM SATU lewat tengah malam, Benny meninggalkan rumah Aningsih. Sebenarnya berat sekali harus berpisah. Namun Benny ingat, besok dia harus ngantor. Sedangkan dia tidak membawa pakaian ganti. Sampai di rumah kostnya, Tante Dewi sendiri yang membukakan pintu.

“Kau dari mana, Ben?! Kok sampai malam sekali pulangnya,” kata Tante Dewi yang heran atas tingkah Beany.

Tidak biasanya Benny pulang di malam selarut ini. Paling malam, jam sebelas. Benny termasuk kategori orang yang lebih suka tinggal di rumah daripada kluyuran.

“Ini, Tante. Teman ulang tahun!” ujar Benny seenaknya, sambil terus mendorong motornya ke belakang. Tante Dewi menguncikan kembali pintu, kemudian mengikuti langkah-langkah Benny ke kamar. Baru saja Benny melepaskan sepatunya, Dewi telah memeluknya. Benny!

Uf!” Tante kangen sekali padamu. Seminggu kita tidak berkencan. Sekarang, Oom sedang ke luar kota. Tadi pagi berangkat!” ujar Dewi sambil mulutnya menghujani
bibir Benny bertubi-tubi.

“Uf! Saya letih sekali. Tante. Lain kali saja!” ujar Benny sambil berusaba menghindari ciuman-ciuman Dewi.

Tetapi Dewi yang sudah naik spanning, tak mau peduli. Dewi mendorong tubuh Benny, sehingga lelaki itu tergelimpang ke alas tempat tidur. Dengan tergesa, Dewi cepat sekali mcmbukai hemd Benny. Sesaat kemudian, hem itu telah melayang ke lantai. Menyusul celana panjang, dan celana dalamnya. Kemudian dengan tergesa pula, Dewi melepaskan dasternya sendiri. Dewi, perempuan yang walaupun telah berusia di atas tiga puluh tahun itu, ternyata memiliki tubuh yang aduhai sempurna. Seperti gadis yang berusia dua puluh tahun saja. Masih sekal dan menggiurkan. Dan Benny yang bertemperamen panas, sekalipun sudah letih sekali, segera naik nafsu birahinya.

“Benny! Tante sudah sangat rindu. Sudah lama mennnggu kesempatan seperti ini. Jangan kecewakan Tante, Ben! Bennnnn!!” ujar Tante Dewi merengek-rengek, seraya menggosok-gosokkan buah dadanya yang sekal padat ke dada Benny yang bidang dan berbulu lebat.

Sementara itu, tangan Tante Dewi meluncur ke bawah dan meremasremas milik Benny yang besarnya lebih besar dari pada pisang ambon. Dalam waktu tidak lama senjata Benny sudah benar-benar tegang. Tegak bagaikan tonggak. Besar dan panjangnya minta ampun. Tante Dewi yang sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya, melompat ke atas tubuh Benny, Kedua pahanya mengangkang di atas selangkangan Benny. Digenggamnya senjata yang aduhai itu. Dengan mesranya dibimbingnya menuju lobang vaginanya yang sudah menganga, siap menanti datangnya sang perkasa. Diletakkannya tepat di mulut gua. Kemudian Tante Dewi menekan pantatnya.

Dan: “Ohg . . . !!” kepala kemaluan itu melesak masuk. Blesss! Tante Dewi nyengir-nyengir kuda, menahan rasa sakit dan linu.

“Hnmmhh . . . ehg!” Bennypun nyengir, menahan nikmatnya kepala kemaluannya digigit dan dipijit-pijit oleh mulut vagina Tante Dewi yang berkerinyut-kerinyut kencang.

“Oukh, Bennn! Hmmhh . . . ssshhh . . . !!” Tante Dewi gemetar tubuhnya. Tetapi cuma sesaat. Tante Dewi yang sudah terbiasa menikmati kepunyaan Benny segera hilang rasa sakitnya. Dan Tante Dewi menekan lagi.

Blassssh! ! !” Oukhhhh, Bennnnnn! Hmhhh . . . enak sekali , sayang hhhhh. Ssssh . . . !!” Mata Tanta Dewi membeliak-beliak. Batang zakar Benny telah amblas seluruhnya ke pangkal-pangkalnya. Tanta Dewi merasakan kenikmatan bukan alang kepalang. Demikian pula halnya Benny. Dinding-dinding vagina Tanta Dewi bagaikan hidup, menekan-nekan batang kemaluan Benny. Nikmaaaaat! Tanta Dewi menarik lagi pantatnya ke atas. Dan . . .
uf! Seluruh isi bagian dalam lorong vagina Tanta Dewi bagaikan terbongkar bersamaan dengan menggelosornya zakar Benny. Demikian pula Benny. Lorong vagina Tanta Dewi bagaikan menyedot-nyedot. Benny mendesahdesah. Tante Dewi bagaikan kesetanan, menggoyang-goyangkan pantat dan pinggulnya yang besar, montok dan putih itu. Benny mengangkat pula pantanya, mengimbangi gerakan-gerakan Tante Dewi. Ternyata dengan posisi ini, cukup mendatangkan kenikmatan juga. Tantea Dewi di atas dan Benny di bawah. Sambil terus juga dengan bersemangat menaik turunkan pantatnya. Tanta Dewi menciumi bibir Benny bertubi-tubi. Benny membalas tak kalah semangat. Lidahnya masuk dan mengait-ngait lidah serta gigi-gigi Tante Dewi yang bersih, putih dan bagus bentuknya.
Sementara itu, tangan Benny pun tidak tinggal diam, meremas-remas payudara Tante Dewi yang kenyal, padat dan besar. Tentu saja dengan remasan-remasan mesra! Tante Dewi semakin lama semakin kesetanan. Benny pun demikian pu1a. Keduanya merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak darl dalam diri mereka. Semakln lama desakan-desakan itu semakin kuat sehingga membuat napas mereka tersendat-sendat. Ibarat orang yang sedang mendaki bukit untuk mencapai puncak.

“Ehb, Bennn . . . !!!”

“Hmnmh! Sssh . . . oukh, Tante! Cepat dikit, sayang! Ayoh, Tante!”

“Bennnn! Sash . . . eng! Ennaaaaaakhh, say . . . !!”

“Sssst! Hmmmh . . . !!”

“Bennnn! Akh! Akhhuu mau keluarrrr . . . say!”

“Sayyyaaa jugghaaa, Tan . . . ! Oukh! Ayoh, Tantea! Putar terus! Semangat, Tante! Semangat! Oukh . . . !!”

“Bennnnn !!!” Tante Dewi semakin kesetanan. Tangannya mengerumasi dada Benny, sehingga Benny kesakitan. Namun bercampur enak. Demikian pula dengan tangan Benny. Membantu pantat dan pinggul Tanta Dewi. Disaat menurunkan pantatnya, Benny membantu dengan menekankan pantat Tanta Dewi kuat-kuat ke bawah. Blasssh!!
Maka tanpa ampun, amblaslah seluruh zakar Benny ke dalam kemaluan Tante Dewi. Masuk ke pangkalpangkalnya!

“Bennnnnnn!!” Tante Dewi meronta-ronta di atas tubuh Benny.

” Ennnaaakhh, Bennn! Akkhhuuu tak kuatttsss laggghhhi, say!! Akhhu kelluuuuarrr! Ssssh . . . akkkhhhh . . . !!” bersamaan dengan jeritan Tante Dewi, tubuh perempuan itu berkelojotan ke sana-ke mari. Kedua kakinya menyepak-nyepak. Tante Dewi mencapai puncak kenikmatan sempurna, yang tidak pernah diperolehnya dari suaminya yang setengah impotent.

Benteng pertahanannya bobol! Bertubi-tubi bagian dalam lobang vaginanya menyemprotkan cairan kental, hangat dan licin. Secara hampir bersamaan pula Benny pun mengeram keras. Bagaikan harimau lapar, Benny memeluk Tante Dewi
kuat-kuat. Dan kemudian dengan sigap, Benny membalikkan tubuhnya, sehingga tubuh Tante Dewi yang berada di bawah. Benny menekan kuat sehingga Tante Dewi gelagapan. Batang zakar Benny berdenyut-denyut keras. Dan cairan kental, hangat dan licin pun bertubi-tubi pula menyembur, membanjiri lorong vagina Tante Dewi yang
memang sudah banjir! Tante Dewl tergelincir dari atas tubuh Benny. Terkulai lemas.

“Bennnn! Oukh, aku puasss sekali!” bisik Tante Dewi sambil memeluk Benny dari samping. Benny tak menjawab. Memandang langit-langit. Batang zakarnya masih tegak. Basah dan licin bekas-bekas cairan kenikmatan mereka berdua. Tante Dewi menciumi Benny bertubi-tubi. Tangannya meluncur ke bawah dan mulai mengurut-urut batang zakar Benny yang kehitaman. Rupanya Tante Dewi termasuk perempuan bertemperamen
panas juga. Nafsunya menggebu-gebu. Merupakan pasangan setimpal dengan Benny. Diurut-urut terus oleh Tante Dewi mesra, nafsu Benny bangkit kembali. Napas Benny mulai lain. Tante Dewi senang sekali. Dia melompat dari sikap berbaringnya.

“Ayoh, Bennn! Timpah aku dari belakang!” ujarnya sambil mengambil posisi nungging. Pantatnya yang besar dan montok itu diacu-acukan ke depan. Melihat pemadangan yang sangat merangsang itu, Benny, tak kuat lagi menahan diri. Dia melompat ke belakang pantat Tante Dewi. Dengan bernafsu, Benny meremas-remas dan menggigiti bungkalan pantat Tante Dewi yang bundar dan putih.

“Ayoh, Ben! Timpah aku! Hantam, Bennnn! Hantam! Jangan sungkan-sungkan! Lakukan saja sekehendakmu!” Ditantang seperti itu, tentu saja Benny yang berdarah jantan dan panas, tidak akan mundur. lnilah yang membuat Tante Dewi senang; sekali. Benny benar-benar kuda. Berapa kalipun melakukan sanggama, dia tetap siap. Tidak seperti kebanyakan lelaki-lelaki lain, yang sudah loyo hanya baru sekali atau dua kali bertempur saja. Benny mengambil posisi di belakang tubuh Tante Dewi yang nungging. Digenggamnya batang zakarnya yang sudah siap tempur. Diselipkan diantara belakang kedua paha Tante Dewi, dan kemudian menerobos bibir-bibir kemaluan Tante Dewi yang mencuat dan sudah terbelah.

Dan, “Ehg . . . !!” Tante Dewi menahan napasnya. Kepalanya menyentak ke atas. Walaupun sudah terbiasa, mencicipi kepunyaan Benny, namun pada saat pertama
kali kepala kemaluan yang bengkak itu menyelip, selalu Tante Dewi merasa kaget dan sedikit sakit!

“Ayoh, Ben! Aku sudah siap . . . !!” ujar Tante Dewi dengan tubuh sedikit bergetar, menahan berat tubuh Benny yang memeluk pinggangnya dari belakang. Tante Dewi lebih menunggingkan pantatnya, sehingga bukit kemaluannya yang sudah bengkak itu semakin mumbul.

“Hantammm, Bennnnn!” ujar Tante Dewi yang seolaholah komandan memberikan aba-aba pada anak buahnya untuk bertempur. Benny segera melakukan tugasnya. Mengayun pantatnya. Dan batang zakar yang segede alaihim itupun menggelosor masuk, menerobos belahan daging kemaluan Tante Dewi dari belakang. Tante Dewi meringis-ringis, merasakan nikmat yang tidak bertara. Seluruh urat-urat tubuhnya bagaikan mengembang.

“Terus, terus Bennnn! Semuanya, sayangghhh . . . !! Jangan disisakan! Semuanya . . . oukhhhhh!!” Tante Dewi merintih-rintih dengan suara sengau. Benny merasakan hangat menyengat dan pijitan-pijitan lembut dinding-dinding vagina Tante Dewi membuat
nafsunya semakin bergelora.

“Oukh, Tante! Enaakhhh banget, khoook?!” Benny menggumam dengan mata merem
melek. Pada waktu senjata Benny menggelosor masuk, Tante Dewi mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, menyambut terobosan maut yang sangat mesra itu.

“Ayoh, Bennnn! Hantammm terus! Yang keras, sayang! Kerassss, Bennnn! Kerasssshhhh . . . !!” Tante Dewi menggoyang-goyangkan dan memutar-mutar pinggul dan pantatnya dengan mesra sekali. Pada waktu Benny menarik senjatanya, Benny agak sedikit menekan pantatnya, sehingga Benny merasakan batang zakarnya yang luar biasa itu bagaikan dipulir-pulir. Oukh, nikmatnya! Bukan main! Inilah yang membuat Benny terkesan oleh Tante Dewi! Sebagaimana yang pertama, kali inipun keduanya sama-sama menyemprotkan cairan kenikmatan. Banyak sekali. Tante Dewi tersenyum-senyum bahagia. Oukh, Benny benar-benar hebat. Tante Dewi sudah beberapa kali menyeleweng dengan lelaki-lelaki lain, dikarenakan suaminya tidak dapat memberikan kepuasan. Namun diantara lelaki-lelaki itu, hanya Benny yang dapat memberikan kebahagiaan sempurna. Dan sejak Benny kost di rumahnya pada beberapa bulan yang lalu, Tante Dewi tidak pernah main dengan lelaki-lelaki lain.

“Bennnn! Jangan tidur dulu! Aku . . . aku . . . masih kepingin, sayang!” bisik Tante Dewi.

“Ih, Tante kayak kuda betina saja!” kata Benny sambil memijit hidung Tante Dewi.

“Dan kau kuda jantannya!” Tante Dewi tertawa kecil sambil menarik lengan Benny.

“Ayoh Ben! Kita bertempur sambil berdiri!”

Demikianlah, sampai pagi, mereka terus bertarung. Entah berapa kali, tak terhitung. Keduanya akhirnya samasama menggeros kelelahan setelah matahari terbit. Namun sama-sama puas. Hari itu, Benny tidak ngantor. Tenaganya terkuras habis!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s